Hari Ini

PEMISAHAN KEUANGAN PRIBADI DAN BISNIS

Update at 13.55. Dalam topik Keuangan

Dalam sebuah usaha, keuangan merupakan faktor yang sangat penting, karena memang inti dari sebuah usaha. Banyak persoalan yang timbul dalam sebuah usaha disebabkan faktor keuangan tersebut. Sehingga tidaklah aneh jika pengelolaan keuangan merupakan hal yang sangat penting.

Seringkali sebuah usaha yang menghasilkan banyak uang, tidak bisa berkembang atau justru bangkrut. Mungkin akan timbul pertanyaan, bagaimana mungkin sebuah usaha yang menghasilkan banyak uang menjadi bangkrut? Tapi pada kenyataannya, memang hal semacam ini banyak terjadi, dan ternyata faktor utama penyebabnya adalah tidak terkelolanya keuangan dengan baik.Tidak terpisahnya antara keuangan pribadi dan keuangan usaha merupakan salah satu kelemahan UKM. Campur aduknya keuangan tersebut menyebabkan sulitnya membedakan atau menghitung berapa sebenarnya keuntungan perperiode, dan sulit untuk mengembangkan modal.

Seringkali kita menganggap keuntungan usaha kita adalah milik kita secara pribadi, yang bisa kita gunakan untuk memenuhi keinginan kita. Hal itu tidak salah, karena memang pada kenyataanya usaha tersebut memang milik kita. Sehingga berapapun hasilnya adalah milik kita.

Sebagai gambaran kita gunakan cerita angsa bertelur emas. Jika angsa itu bertelur, lalu telurnya kita jual. Apakah salah jika hasil penjualan telur tersebut menjadi milik kita seluruhnya dan digunakan hanya untuk keinginan kita, toh angsa itu juga angsa milik kita sendiri? Tapi walaupun hal itu tidak salah, apakah hal tesebut sudah tepat? Apakah tidak ada bagian untuk membeli makanan angsa kita? untuk menjaga kesehatannya? Untuk mencarikan pasangan angsa kita, sehingga bisa berkembangbiak? Untuk membuatkan kandang yang lebih besar, jika angsa-angsa kita bertambah banyak, yang berarti akan tambah banyak pula telur emas yang akan dihasilkan.Kita tentu akan memikirkan juga nasib sang angsa yang menjadi sumber penghasilan kita. Oleh sebab itu kita perlu mengatur berapa bagian untuk kita dan berapa bagian untuk angsa. Kemudian kita pisahkan agar bagian kita tidak termakan angsa, yang berakibat kita jadi kekurangan karena bagian kita jadi sedikit, atau jatah angsa tidak termakan kita, sehingga angsa kita tetap bisa sehat dan berproduksi. Bahkan kalau perlu dan memang sangat perlu, kita memberikan jatah yang lebih besar pada angsa kita.

Ibarat angsa bertelur emas, begitu juga dengan usaha kita. Sangat perlu bagi kita untuk membagi hasil usaha (keuntungan) yang kita peroleh. Sebagian kita gunakan untuk keperluan pribadi dan sebagian untuk pengembangan usaha.Pembagian tersebut bisa dengan prosentase untuk keuntungan setiap periode. Misalnya 40% untuk kita gunakan pribadi, 60% untuk pengembangan usaha. Jadi misal bulan ini kita untung Rp. 1.000.000,- maka kita kebagian Rp. 400.000,- dan Rp. 600.000,- untuk usaha kita. Bisa juga pembagiannya dengan penjatahan untuk kita atau sebaliknya. Misalnya kita ambil jatah perbulan Rp. 400.000,- (bisa kita anggap sebagai gaji). Maka berapapun keuntungan yang diperoleh kita kurangi Rp. 400.000,- untuk keperluan kita pribadi, sedangkan sisanya, berapapun nilai diperuntukan untuk usaha kita. Bisa sebaliknya, usaha kita dijatah Rp. 400.000,- sedangkan sisa dari keuntungan yang ada, kita ambil semua untuk kepentingan sendiri.Digunakan untuk apa bagian yang kita berikan bagi usaha kita? Bagian yang kita berikan untuk usaha kita, dianggap sebagai penambahan modal.

Dengan bertambahnya modal ada kemungkinan usaha kita bisa lebih berkembang. Tentu dengan syarat, pengelolaannya benar. Jadi penambahan modal tersebut bidsa kita gunakan untuk investasi alat. Baik penambahan, penggantian peralatan dengan yang lebih canggih, lebih besar kapasitas produksinya. Bisa juga untuk penambahan bahan baku atau apapun yang menunjang peningkatan usaha kita.Mungkin kita belum merasa perlu mengganti dengan peralatan yang kapasitas produksinya lebih besar, atau belum perlu menambah persediaan bahan baku. Bisa saja penambahan modal tersebut kita simpan untuk jaga-jaga, jika sewaktu-waktu kita mendapat order yang lebih besar dari biasanya. Sayangkan, kalau kesempatan tersebut lewat gara-gara kita tidak punya modal lebih (mosok onok duwik lewat, dijarno ae?!).

Kalau kita ingin membeli peralatan baru dan menambah persediaan bahan baku, tentu itu lebih baik. Lalu kalau kapasitas peralatan dan bahan baku melebihi kebutuhan kita, bisa kita tawarkan kelebihan tersebut kepada pengusaha lain yang membutuhkan. Untuk kelebihan kapasitas produksi mesin, kita bisa tawarkan jasa untuk membuat/ produksi kepada pengusaha lain yang sejenis.

Misalnya kita punya peralatan pembuat roti, kita bisa tawarkan jasa untuk membuatkan roti pengusaha lain, dengan merek mereka, dengan bahan baku sendiri atau bahan baku dari kita. Hal tersebut sudah umum pada kalangan pengusaha, bahkan banyak perusahaan yang memesan suatu produk keperusahaan lain dengan merk mereka. Atau bisa kita lihat banyak perusahaan yang memberi order pada pengusaha lain/ pengrajin untuk membuatkan suatu produk dengan bahan baku dari perusahaan dan pengusaha lain/ pengrajin mendapat upah dari jasa pembuatan produk tersebut (sering disebut nge-sub atau mborongke).Sedangkan kelebihan dari persediaan bahan baku kita, bisa kita jual secara eceran pada pengusaha lain. Kita membeli/ kulak dalam jumlah besar dengan harga partai, yang tentu saja lebih murah daripada membeli/ kulak dalam jumlah sedikit, kemudian kita jual secara eceran dengan harga eceran (tentu lebih mahal dari harga jual partai). Jadi kita mendapat dua keuntungan, dengan penghematan pembelian bahan baku dan keuntungan hasil penjualan eceran. Opo gak uenak?! Kita jadi punya tiga usaha, sebagai produsen (usaha utama) dan sebagai penjual jasa serta penjual bahan baku (pengembangan usaha).

Ibaratnya kita punya satu ekor angsa petelor emas dan dua ekor anak angsa petelor emas. Yang suatu sa'at nanti 2 ekor anak angsa tersebut akan menjadi angsa dewasa yang bisa memberi kita tambahan telor emas. Bahkan tidak menutup kemungkinan hasilnya akan lebih banyak dari pada angsa induknya, karena kita sudah lebih tahu, lebih pengalaman dalam memelihara, merawat dan mengembangbiakkan angsa.Pada awal usaha, seringkali kita menggunakan semua keuntungan usaha untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Karena pada umumnya diawal usaha, keuntungan yang diperoleh masih sangat sedikit, bahkan kadang-kadang rugi. Hal ini wajar, asalkan kita bisa menahan diri untuk berusaha tidak sampai menggerogoti modal. Jadi kita harus bisa menahan diri untuk memenuhi kebutuhan pribadi sesuai dengan hasil keuntungan yang didapat, jangan sampai lebih.

Teknis pelaksanaan untuk pemisahan keuangan pribadi dengan keuangan usaha, disesuaikan dengan kondisi kita masing-masing. Bisa saja kita pisahkan uang tersebut dengan kaleng. Untuk uang usaha dengan kaleng roti, untuk uang pribadi dengan kaleng susu. Atau bisa juga dengan disimpan dibank. Untuk uang usaha disimpan di bank KU, untuk uang pribadi disimpan di bank KA.Akan lebih bagus lagi kalau hal tersebut diatas didukung dengan pencatatan/ pembukuan, walau yang paling sederhana sekalipun. Pembukuan bisa kita buat sendiri sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan kita, yang penting mampu mempermudah usaha kita. Atau bisa juga kita minta tolong pada orang lain yang berkecimpung dibidang pembukuan, baik yang belajaran, amatiran ataupun profesional. Misalnya pelajar (biasanya pelajar SMP sudah mendapat pelajaran pembukuan sederhana/ tata buku), atau mahasiswa ataupun relawan dari LSM-LSM yang bergerak dibidang pemberdayaan usaha kecil/ menengah.

Tidak menjadi persoalan siapapun yang membuat pembukuan kita, yang penting benar, mudah digunakan dan bermanfaat. Daripada pembukuan kita dibuat oleh seorang profesional, tapi kita tidak bisa menggunakannya, karena terlalu rumit, lebih baik kita buat yang sederhana, yang bisa kita fahami.

Tulis Komentar Kamu dibawah, pilih Name/URL atau pilih Anonymous.

0 Komentar untuk "PEMISAHAN KEUANGAN PRIBADI DAN BISNIS"